Main Article Content

Abstract

Data yang diperoleh di Puskesmas Perumnas menunjukkan padat ahun 2015 ditemukan jumlah penderita TB Paru sebanyak 28 kasus BTA positif, tahun 2016 ditemukan jumlah penderita TB paru BTA positif sebanyak 33 kasus BTA positif sedangkan pada tahun 2017 mengalami peningkatan dengan jumlah penderita TB paru BTA positif sebanyak 42 kasus BTA positif. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan faktor-faktor yang berhubungan dengan kesembuhan penderita TB paru di Wilayah Kerja Puskesmas Perumnas Kota Kendari. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan desain case control study,populasiadalahsemua pasien yang positif TB BTA+ yang berkunjung di Puskesmas Perumnas berjumlah 42 pasien dengan jumlah sampel kasus 39 orang dan kontrol 39 orang sehingga totalnya sebanyak 78 orang.Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling, Metode analisis menggunakan UjiChi Square dan uji Phi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan minum obat merupakan factor risikoterhadapkesembuhanpenderita TB paru(OR= 37,400; CI= 95%), dukungan keluarga merupakan factor risiko terhadap kesembuhan penderita TB paru(OR= 7,500; CI= 95%), dan pelayanan kesehatan merupakan faktor risiko terhadap kesembuhan penderita TB paru(OR= 3,571; CI= 95%), Diharapkan kepada Puskesmas Perumnas agar rutinturun kelapangan dalam memberikan penyuluhan kepada penderitaTB Paru agar rutin
minum obat secara teratu rtanpa henti sampai 6 bulan, sebab penyakitTB Paruhanya dapat sembuh total jika patuh minum obat secara teratur.

Keywords

TB Paru BTA , kepatuhan minum obat, dukungan keluarga, pelayanan kesehatan

Article Details

References

  1. 1. Anderson,2012.KerangkaLa ndasan Untuk Pembelajaran, Pengajara Dan Asesmen Revisi TaksonomiPendidikan Bloom. Yogyakarata :PustakaPelajar.
  2. 2. Anonim, 2005, TB di Indonesia Masih Sulit Dikendalikan, diakses 28 Pebruari 2013)
  3. 3. Azwar, 1996. Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan.Jakarta :SinarHarapan
  4. 4. Dweeja.Wordpress.com, 2012.
  5. 5. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara, 2015. Profil Kesehatan Prov. Sultra Kendari.
  6. 6. Dirjen P2M &PLP, 2011. Pengawas Menelan Obat (PMO) adalah DOTS ala Indonesia. Jakarta.
  7. 7. Fitriyani, 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa.EGC. Jakarta.
  8. 8. Fridman, 2008. Keperawatan Keluarga: Teori dan Praktek. Jakarta.ECG.
  9. 9. Hasibuan. 2010, Manajemen Personalia Jakarta :Bumi Aksara
  10. 10. Herryatno, D Anwar Mussadad dan Freddy M Kpmaling, 2011. Riwayat pengobatan Pendrita TB Paru Meninggal. Jurnal Ekologi Kesehatan Vol 3 No 1 April 2011 : 1-6
  11. 11. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2002. Pedoman Informasi Obat Bagi PengelolaObat Di Puskesmas. Jakarta
  12. 12. 2006. ProfilKesehatan. Jakarta.
  13. 13. 2010. Wewenang Puskesmas dan Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta.
  14. 14. Jendral Pengadilan Penyakit. Pedoman Nasional Pengadilan Tuberkulosis.2011.
  15. 15. 2013. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Jakarta : Dirjen PPM PLP.
  16. 16. Kotler, 2007, Manajemen Pemasaran. Jakarta :Erlangga.
  17. 17. Murniasih, 2007. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Akibat Hospitalisasi Pada Anak Usia Pra Sekolah Di Bangsal 1 RSUP. Jurnal Kesehatan Surya Medika Yogyakarta.DiaksesTanggal 26 Juni 2012.
  18. 18. Nandangtisna,2014. Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Tingkatan Kepatuhan Pasien dalam Minum Obat Anti Tuberkulosis. Di Puskesmas Tanggerang Selatan.
  19. 19. Niven NEIL, 2002. Perilku Kesehatan, Dalam : Psikologi Kesehatan. Edisi ke-2. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. 183-199
  20. 20. Notoatmodjo, S., 2007. Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.
  21. 21. 2010. MetodologiPenelitianKesehatan. PT RinekaCipta: Jakarta Jurnal MJPH, Vol 1 No. 2, Desember 2018
  22. 22. Perdana P. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Berobat Penderita TB Paru. Jakarta Timur; FIIK. Universitas Pembangunan Nasional. 2011.
  23. 23. Pohan, I., 2004, Jaminan Mutu Layanan Kesehatan. Penerbit Buku Kedokteran. EGC. Jakarta.
  24. 24. Preti D, 2015. Faktor yang Berpengaruh Terhadap Kepatuhan Pengobatan (Berobat dan Minum Obat) Penderita TB Paru. Di 5 Puskesmas di Kota Bogor.
  25. 25. Purwanta. 2013. Ciri-ciri Pengawas Minum Obat yang Diharapkan oleh Penderita Tuberkulosis Paru di Daerah Urban dan Rural di Yogyakarta. 1 Maret 2009).
  26. 26. Razak, 2010.Pemanfaatan pelayanan Kesehatan Masyarakat Pesisir :Studi Ekonomi Kesehatan. Kalammedia Pustaka. Makassar
  27. 27. Rouillon, A., dan Enarson, D.A., (2010). Diaskes tanggal 05-05-14, 08:00
  28. 28. Wikipedia, 2010. Riwayat dan Sifat Mycobacterium tuberculosis. Edisi 2 Jakarta.
  29. 29. WHO,2012. Tuberkulosis, Kedaruratan Global. www.tbcindonesia.or.id. (3 Februari).